//
Kualitas Pembelajaran dan Peran Kepala Sekolah

Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

2. Gurpres

Guru Berprestasi

 

Kualitas pembelajaran antara lain diketahui dari bagaimana proses pembelajaran di kelas (dalam arti luas dapat berarti di ruang kelas, laboratorium, lingkungan dan sebagainya) berlangsung dan hasil yang dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan tersebut. Berkaitan dengan kualitas pembelajaran penting untuk digaris bawahi bahwa, “the student’s behavior is the most direct link to students achievement and the teacher’s behavior can affect student’s behavior in the ways that will lead to improved student learning” (David A. Squires, 1983 : 9).

Oleh karena itu, pembahasan kualitas pembelajaran sesungguhnya menunjuk pada efektivitas kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung dan berdasar pendapat Squires diatas dapat diketahui bahwa karakteristik kelas yang efektif (sehingga capaian belajar siswa optimal) menyangkut dimensi aktiviras guru dan siswa.

Aktivitas guru dalam hal ini berkaitan dengan perencanaan, pengelolaan kelas, dan pembimbingan siswa dalam kegiatan belajar, sedangkan dari dimensi aktivitas siswa merujuk pada partisipasi atau keterlibatan siswa, cakupan hasil belajar siswa, dan keberhasilan siswa.

Perencanaan merupakan persiapan mengenai aktivitas pembelajaran yang akan dilaksanakan, pengelolaan berupa upaya guru mengontrol aktivitas siswa sehingga pembelajaran berlangsung dengan baik, dan pembimbingan menyangkut perhatian guru untuk membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian gurulah yang merencanakan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk menguasai cakupan kemampuan yang harus dikuasainya dan mencapai keberhasilan sebagai cermin prestasi. Squires menggambarkan dimensi karakteristik kelas yang efektif sebagai berikut :

Kualitas PBM_3

 

 

 

 

(Squires, 1983 : 10).
Dimensi Kelas Efektif

Kualitas pembelajaran ditentukan oleh ketersediaan dan kesiapan sumberdaya pendukung (input) bagi terselenggarakannya proses, proses pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan, sehingga tercapainya tingkat capaian hasil pembelajaran yang tinggi, ditunjukkan oleh prestasi akademis maupun non akademis peserta didik (output) optimal. Penelitian yang dilakukan Wayan Koster, membuktikan bahwa ”semakin baik input sekolah maka akan semakin baik pula hasil belajar siswa” (2000 : 358).

Pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun dari unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran (Omar Hamalik, 1994 : 57). Rumusan ini menunjukkan bahwa pembelajaran terjadi melalui berbagai cara karena diwarnai oleh interaksi berbagai unsur dan dapat terjadi di ruang (kelas) maupun di luar kelas sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Capaian tujuan pembelajaran antara lain ditunjukkan oleh prestasi peserta didik dibidang akademis maupun non akademis. Prestasi yang mencerminkan kompetensi, keterampilan, dan sikap peserta didik sesuai tujuan pendidikan.

Salah satu indikasi pembelajaran yang baik sesuai dengan teori pendidikan kontruktivisme ialah yang mampu memberdayakan peserta didik. Pembelajaran yang memberdayakan ialah yang memberikan kewenangan yang lebih besar kepada peserta didik untuk menentukan pembelajaran yang akan dilakukan (Suwarsih Madya, 2007 : 1). Peserta didik dalam hal ini memegang tanggungjawab atas proses pembelajaran yang dilakukan, menentukan keterlibatannya dalam proses, menentukan cara belajar, kesempatan mencapai kompetensi dan kemampuan yang akan dikembangkan dengan tidak mengandalkan guru semata.
Proses pemberdayaan tersebut dapat ditempuh secara individual maupun kelompok mandiri dan mengurangi peran guru sebagai sumber belajar. Baik secara individual maupun kelompok namun arahnya sama ialah menuju proses belajar mandiri / aktif yaitu kegiatan pembelajaran yang dibangun dengan bekal pengetahuan / kompetensi yang telah dimiliki peserta didik sendiri dan tidak mengandalkan guru (Haris Mujiman, 2006 : 1 ).

Selain memberdayakan pembelajaran juga diharapkan terselenggara dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan. Suasana pembelajaran yang menyenangkan akan menumbuhkan kegairahan belajar (Oemar Hamalik, 1994 : 52 ). Pembelajaran yang menyenangkan antara lain dapat diwujudkan dengan kemampuan guru mengembangkan pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata sehari – hari peserta didik (Contexrual teaching learning). Pembelajaran yang menyenangkan diindikasikan oleh perasaan senang yang meliputi peserta didik selama pembelajaran, tidak tertekan / takut, peserta didik dapat menikmati pembelajaran dengan nyaman dan kebebasan untuk mengekpresikan diri.

Hal diatas diharapkan akan mampu menciptakan pembelajaran yang efektif dilihat dari segi proses maupun hasil belajar yang dicapai peserta didik. Pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan penguasaan materi peserta didik, menggunakan waktu dengan baik, mengaitkan materi dengan kehidupan nyata peserta didik, dan dilaksanakan dengan baik sehingga mencapai tujuan.

a. Standar Proses Pendidikan

Sejalan dengan pendapat Squires di atas, dalam rangka menjamin teselenggaranya proses pembelajaran yang berkualitas Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana pembelajaran dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.

Berkaitan dengan hal tersebut Wina Sanjaya (2010 : 2-3) menjelaskan yang pada intinya bahwa makna yang terkandung dalam pengertian tersebut antara lain :

  1. Pendidikan merupakan usaha sadar yang terencana, hal ini berarti proses pendidikan bukan merupakan proses yang asal – asalan melainkan proses yang bertujuan sehingga aktivitas peserta didik dan guru diarahkan pada upaya pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
  2. Proses pendidikan yang terencana diarahkan untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran, ini berarti pendidikan tidak boleh mengesampingkan proses pembelajaran. Pendidikan tidak hanya berupaya mencapai hasil namun juga memperhatikan bagaimana proses sehingga mencapai tujuan tersebut dilaksanakan.
  3. Suasana belajar dan pembelajaran diarahkan agara peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya. Ini berarti bahwa proses pendidikan harus berorientasi kepada peserta didik (student active learning).
  4. Akhir dari proses pendidikan adalah kemampuan peserta didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara, yang berarti bahwa proses pendidikan berujung pada pembentukan kompetensi, yaitu sikap, pengembangan kecerdasan intelektual, dan keterampilan peserta didik sesuai kebutuhan.

Untuk merealisir hal tersebut, maka Peraturan Pemerintah 19Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses mengatur lebih lanjut mengenai standar proses pendidikan yang harus diwujudkan pada satuan pendidikan. Standar proses pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada suatu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.

Adapun fungsi standar proses pendidikan antara lain ialah : 1) alat untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu kompetensi yang harus dicapai melalui usaha pendidikan, 2) pedoman bagi guru dalam menyusun rencana, melaksanakan, dan menilai hasil belajar, 3) bagi kepala sekolah alat untuk mengukur keberhasilan program pendidikan dan sumber utama untuk merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan pembelajaran seperti kebijakan mengenai sarana dan prasarana, dana, dan lainnya untuk menunjang keberhasilan pembelajaran (Wina Sanjaya, 2010 : 5-6). Standar proses pendidikan merupakan inti dari proses pendidikan yang diselenggarakan di sekolah (Wina Sanjaya, 2010 : 10).

SNP

 

 

 

 

 

 

 

Dalam rangka implementasi standar proses guru memiliki peranan yang penting. Untuk itu, setidaknya guru harus memahami dan mampu menyusun perencanaan pembelajaran, memahami dan mampu mengelola pembelajaran termasuk mendesain dan mengimplementasikan strategi pembelajaran sesuai tujuan dan isi pendidikan, serta memahami dan mampu melaksanakan evaluasi, baik proses maupun evaluasi hasil pembelajaran.

Sesuai Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007, maka standar proses pembelajaran yang harus diterapkan pada satuan pendidik atau sekolah mencakup perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan pengawasan proses pembelajaran. Secara ringkas cakupan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Standarisasi cakupan kegiatan tersebut diperlukan agar visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan sebagai salah satu bagian reformasi pendidikan di Indonesia dapat terwujud. Salah satu prinsip penting ialah bahwa proses pendidikan dilaksanakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Implikasi prinsip ini ialah pergeseran paradigm proses pendidikan, yaitu paradigm pengajaran ke pembelajaran. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Untuk melaksanakan hal tersebut proses pendidikan harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, meberi ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik. Untuk itulah diperlukan standar minimal proses proses pembelajaran pada satuan pendidikan yang disebut standar proses.

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus merupakan acuan untuk pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar, yang dapat dilaksanakan dalam satu atau lebih pertemuan. Penyusunan RPP harus dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip 1) memperhatikan perbedaan individual, 2) mendorong partisipasi, 3) mengembangkan budaya baca dan tulis, 4) memberikan umpan balik dan tindaklanjut, 5) keterkaitan dan keterpaduan, dan 6) menerapkan teknologi komunikasi dan informasi.

Pelaksanaan proses pembelajaran harus memenuhi persyaratan pembelajaran yaitu : 1) rombongan belajar (untuk SMA / MA : 32 peserta didik), 2) beban kerja minimal guru yang mencakup kegiatan pokok merencanakan, melaksanakan, menilai hasi belajar, membimbing, melatih, serta melaksanakan tugas tambahan serta sekurang – kurangnya 24 jam tatap muka / minggu. 3) ketersediaan buku teks pembelajaran yang ditetapkan dalam rapat guru, rasio 1 : 1, 4) pengelolaan kelas yang mencakup pengaturan lingkungan pembelajaran, perilaku tindakan guru, dan peserta didik. Selain persyaratan pembelajaran dalam rangka pelaksanaan pembelajaran setiap RPP harus menggambarkan langkah – langkah pembelajaran yaitu kegiatan: 1) pendahuluan untuk mempersiapkan peserta didik dan menyampaikan tujuan serta cakupan materi, 2) kegiatan inti yang dilakukan dengan menggunakan berbagai metode dan meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, dan 3) penutup, dalam bentuk rangkuman / simpulan, penilaian atau refleksi, umpan balik dan rencana tindak lanjut.

Penilaian dilaksanakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar. Untuk melaksanakan kegiatan ini guru menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis, lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya (tugas, proyek, produk), portofolio, dan penilaian diri. Untuk melaksanakan kegiatan penilaian secara khusus guru menggunakan standar penilaian.
Efektivitas pelaksanaan kegiatan di atas selain ditentukan oleh komitmen para pendidik / guru juga ditentukan bagaimana pengawasan proses pembelajaran dilakukan. Pengawasan proses pembelajaran dalam hal ini dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas satuan pendidikan. Pengawasan mencakup kegiatan 1) pemantauan (pada perencanaan, pelaksanaan, penilaian dengan cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara, dan dokumentasi), 2) supervisi (baik pada perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi), 3) evaluasi (untuk menentukan kualitas pembelajaran dengan membandingkan proses yang terjadi dengan standar proses dan mengidentifikasi keseluruhan kinerja guru), 4) pelaporan (kepada pemangku kepentingan), dan 5) tindak lanjut (penguatan, teguran, pelatihan).

b. Konstruktivisme, Contextual Teaching Learning (CTL), dan PAKEM

Perubahan paradigma pengajaran ke pembelajaran sebagaimana diatur dalam standar nasional pendidikan tidak lepas dari perkembangan pendekatan pendidikan, khususnya teori / pendekatan konstruktivisme yang menggeser pendekatan behaviorisme. Pendekatan konstruktivisme memandang bahwa hakikat belajar adalah kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi makna pada pengetahuan sesuai dengan pengalamannya (Baharudin, 2007 : 116). Dengan demikian pengetahuan itu tumbuh dan berkembang melalui pengalaman dan melalui proses dimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya.

Menurut Piaget, sebagaimana dikutip oleh Winfred F Hill, (2009 : 57 – 60), pada saat seseorang belajar telah terjadi 2 proses yaitu proses organisasi materi dan proses adaptasi. Proses organisasi materi ialah proses dimana seseorang menghubungkan informasi yang diterima dengan struktur pengetahuan yang sudah dimilikinya. Melalui proses inilah seseorang dapat memahami informasi baru yang diterimanya. Proses adaptasi ialah proses yang berisi 2 kegiatan yaitu menghubungkan pengetahuan yang diterima (asimilasi) dan mengubah struktur pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru sehingga terjadi keseimbangan (equilibrium). Berkaitan dengan proses adaptasi ini Piaget mengemukakan empat konsep dasar yaitu:

  1. Skemata, yaitu kumpulan konsep atau kategori yang digunakan individu ketika berinteraksi dengan lingkungan.
  2. Asimilasi, yaitu proses kognitif menyerap pengalaman baru ketika seseorang memadukan antara stimulus ke dalam skemata atau perilaku yang sudah dimiliki.
  3. Akomodasi, yaitu proses kognisi yang menghasilkan skemata baru yang mengubah skemata lama.
  4. Equlibrium, yaitu dalam proses adaptasi lingkungan seseorang berusaha untuk mencapai struktur mental atau schemata yang stabil. Pada tahap ini berarti bahwa telah terjadi keseimbangan antara asimilasi dan akomdasi.

Perkembangan pendekatan konstrutivisme berpengaruh terhadap perkembangan strategi pembelajaran. Sekurang – kurangnya terdapat 3 strategi pembelajaran yang sesuai dengan pendakatan ini. Menurut Slavin sebagaimana dikutip oleh Burhanudin (2007 : 127) 3 strategi itu ialah 1) top down processing, yaitu suatu pembelajaran yang dimulai dari suatu masalah yang kompleks untuk dipecahkan, untuk kemudian menghasilkan keterampilan yang dibutuhkan, 2) cooperative learning, yaitu proses belajar dimana peserta didik berkelompok untuk saling membantu memecahkan suatu masalah, dan 3) generative learning, yaitu strategi yang memfokuskan interaksi pengetahuan baru dengan schemata yang telah dimiliki peserta didik.

Perkembangan konstruktivisme berpengaruh terhadap perkembangan model pembelajaran. Walaupun terdapat berbagai ragam model pembelajaran, namun terdapat pandangan yang sama, yaitu dalam proses belajar peserta didik adalah pelaku aktif pembelajaran dengan membangun sendiri pengetahuan berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki. Beberapa model pembelajaran yang didasarkan pada kosntruktivisme antara lain discovery learning, reception learning, assited learning, active learning, the accelerated learning, quantum learning, dan contextual teaching learning (Burhanudin, 2007 : 129).

Salah satu model pembelajaran kontruktivisme ialah model pembelajaran contextual teaching learning. Wina Sanjaya (2010 : 255) menjelaskan bahwa contextual teaching learning atau CTL adalah strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyatanya sehingga mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Terdapat 5 karakteristik CTL yaitu : 1) Activiting knowledge atau pengaktifan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik, 2) acquiring knowledge atau belajar dalam rangka memperoleh atau menambah pengetahuan baru, 3) understanding knowledge atau pemahaman akan pengetahuan yang diperoleh, 4) applying knowledge atau penerapan pengetahuan dalam kehidupan peserta didik, dan 5) reflecting knowledge atau umpan balik untuk penyempurnaan strategi.

CTL sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran memiliki 7 azas atau sering pula disebut sebagai 7 komponen CTL, yaitu :
1) Konstrutivisme, yaitu proses membangun pengetahuan baru dakam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalaman.
2) Inquiri, yaitu proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penemuan melalaui proses berfikir secara sistematis.
3) Questioning, yaitu proses pembelajaran dimana guru berperan tidak saja menyampaikan informasi, namun mengembangkan berbagai pertanyaan untuk memancing peserta didik menemukan sendiri pengetahuan baru.
4) Learning Community, yaitu proses pembelajaran melalui kerjasama dalam kelompok.
5) Modeling, proses memperagakan suatu contoh sebagai model bagi peserta didik,
6) Reflection, yaitu proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengurutkan kembali peristiwa pembelajaran yang telah dilalui.
7) Authentic Assesment, dalam CTL keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual melainkan perkembangan seluruh aspek. Oleh karena itu, penilaian hasil belajar tidak hanya dilakukan melalui tes tetapi juga melalui proses penilaian nyata.

Salah satu implikasi perkembangan pendekatan pembelajaran konstrutivisme dan CTL ialah dikembangkannya pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan atau PAKEM. Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi (2010 : 133) menguraikan mengenai PAKEM pada intinya sebagai berikut :
Pembelajaran aktif ialah pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai peserta didik dalam membangun pengetahuan. Dalam hal ini peserta didik merupakan subyek yang terlibat aktif tidak saja secara fisik namun juga secara mental, emosianal dan intelektual (Wina Sanjaya, 2010 : 137). Pembelajaran kreatif menggambarkan proses pembelajaran dimana guru menciptakan kegiatan pembelajaran yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat perkembangan kemampuan peserta didik.
Proses pembelajaran yang aktif dan kreatif diharapkan berlangsung dalam suasana menyenangkan. Menyenangkan berarti terlaksananya kegiatan pembelajaran yang memusatkan perhatian peserta didik pada pembelajaran. Melalui pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan, maka diharapkan pembelajaran akan berlangsung secara efektif, yaitu menghasilkan kompetensi atau kemampuan yang harus dikuasai peserta didik.

Untuk dapat melaksanakan PAKEM, maka hal yang harus diperhatikan antara lain 1) guru harus memahami sifat anak, 2) mengenal peserta didik secara perorangan, 3) memanfaatkan perilaku dalam mengoragnisir pembelajaran, 4) mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah, 5) mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik, 6) memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, 7) memberi umpan balik untuk meningkatkan kegiatan belajar, dan 8) membedakan aktif fisik dan aktif mental.

c. Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Berdasarkan uraian mengenai kualitas pembelajaran sebagaimana diuraikan sebelumnya diketahui bahwa kualitas pembelajaran ditentukan oleh berbagai hal, termasuk diantaranya komponen input. Oleh karena itu, kepala sekolah harus mampu menciptakan semua aspek / komponen sekolah sehingga dapat menunjang keberhasilan pembelajaran.

Usaha tersebut dapat dilakukan dengan memfokuskan usaha mengembangkan kelas efektif dan sekolah efektif. Berkaitan dengan kelas efektif kepala sekolah harus focus pada usaha pencapaian prestasi siswa (student achievment) melalui upaya mendukung terciptanya aktivitas siswa (student’s behavior) dan aktivitas guru (teacher’s behavior) yang dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan karena tersedianya berbagai sumberdaya yang diperlukan dan iklim belajar yang baik di sekolah.

Squires menunjukkan lebih jauh bahwa terdapat 5 faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, yaitu yaitu kepemimpinan (kepala sekolah), iklim sekolah, supervisi, aktivitas guru, dan aktivitas siswa dalam suatu model perbaikan sekolah dan kelas yang efektif. Model perbaikan sekolah dan kelas efektif yang dikemukakan oleh Squires dapat ditunjukkan pada gambar 3 sebagai berikut:

Sekolah Efektif

 

 

 

 

 

 

 

(Squires, 1983 : 4)
Model Perbaikan Sekolah Efaktif dan Kelas Efektif

Model perbaikan sekolah dan kelas efektif di atas dengan jelas menunjukkan bahwa proses pembelajaran (berupa aktivitas siswa dan guru yang telah direncanakan, dikelola dan dibawah bimbingan guru) merupakan inti kegiatan sekolah. Proses pembelaran yang berkualitas tidak saja ditentukan oleh guru, namun juga ditentukan oleh factor lainnya, misalnya peran kepala sekolah, sistem pengelolaan sekolah termasuk supervisi, iklim sekolah dan sebagainya.

Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran Kepala harus melakukan pengawasan proses pembelajaran agar berjalan dengan efektif. Untuk itu, kepala sekolah melaksanakan supervisi pembelajaran. Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989, Glickman, et al; 2007). Adapun tujuan supervisi akademik adalah: 1) membantu guru mengembangkan kompetensinya, 2) mengembangkan kurikulum, dan 3) mengembangkan kelompok kerja guru, dan membimbing penelitian tindakan kelas (PTK) (Glickman, et al; 2007, Sergiovanni, 1987).

Selain supervisi akademik, aktivitas guru dan siswa dipengaruhi oleh iklim sekolah. Kepala sekolah harus mampu mengembangkan iklim sekolah dimana guru dan warga sekolah fokus pada kegiatan akademik, menata lingkungan yang nyaman dan kondusif, dan membangun harapan / prestasi yang tinggi. Untuk membangun iklim sekolah, maka kepala sekolah harus mampu menjadi model / contoh perilaku yang mendukung iklim positif sekolah. Dalam rangka itu, Kepala sekolah harus : 1) mendukung program peningkatan kapasitas guru, memonitor kelas, mensupervisi pembelajaran, dan menyediakan waktu yang cukup untuk bersama guru, 2) mampu memberikan umpan balik yang diperlukan guru guna menangani sejumlah perilaku siswa dalam rangka mencapai prestasi tinggi, dan 3) membangun konsensus bersama mengenai tindakan dalam rangka perbaikan kualitas pembelajaran serta konsisten melaksanakan konsensus tersebut sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Lebih jauh peran kepala sekolah terhadap peningkatan kualitas pembelajaran semakin dapat diketahui dengan memperhatikan hubungan antara standar proses dengan standar pendidikan yang lain. Sebagaimana diungkapkan oleh Wina Sanjaya. Standar proses yang dipengaruhi oleh standar isi dan SKL, hanya dapat terlaksana dengan baik apabila didukung dengan adanya standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana prasarana yang dikelola dengan baik oleh kepala sekolah sesuai dengan tanggungjawab dan kewenangnya.
Dalam Manajemen Berbasis Sekolah, guru memiliki kewenangan mengelola standar SKL, isi, proses dan penilaian. Sedangkan kepala sekolah memegang kewenangan berkaitan dengan pengelolaan, pembiayaan, sarana prasarana, dan pendidik dan tenaga kependidikan yang harus dikelola agar menunjang keberhasilan pembelajaran.

Komentar ditutup.

Arsip

Pengunjung

  • 34,377 hits

Top Rated

Kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 7 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: