//
Materi PKn

BUDAYA POLITIK DI INDONEBSIA

1.A.   Pendahuluan

Salah satu komponen yang mempengaruhi sistem politik adalah budaya politik. Sistem politik akan mencapai tujuan dengan optimal dalam mengalokasikan nilai – nilai politik apabila warganegara dan masyarakat didalamnya memiliki budaya politik yang  sesuai dengan tujuan dari  sistem politik itu. Sebagai contoh, sistem politik demokrasi akan dapat melaksanakan demokrasi dengan baik apabila warganegaranya dan masyarakatnya mengamalkan budaya politik partisipatif. Untuk itu, maka warganegara dan masyarakat sistem politik itu harus memahami dengan baik nilai – nilai demokrasi dan memiliki komitmen secara konsisten melaksanakannya.

Mengingat pentingnya budaya politik, agar para siswa memahami tentang budaya politik Indonesia, maka berikut diuraikan pengertian budaya politik, tipe – tipe budaya politik, budaya politik di Indonesia, sosialisasi politik, dan penerapan budaya politik partisipatif dalam sistem politik.

 

  1. B.   Pengertian Budaya Politik

 

Perhatikan fakta kehidupan sistem politik berikut ini dan jawablah beberapa pertanyaan di bawahnya !

 

“Menko perekonomian mengatakan, pemerintah menyediakan dana Rp.25 trilyun untuk bantuan langsung tunai (BLT) sebagai kompensasi pemerintah kepada masyarakat miskin bila bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jadi dinaikkan pada bulan April mendatang.”

Terkait dengan rencana pemberian BLT Sekjen Partai Amanat Nasional mengingatkan pemerintah untuk belajar dari program BLT sebelumnya. Program antisipasi kenaikan BBM seharusnya mendidik, seperti untuk pemberdayaan ekonomi rakyat dengan memberikan modal dan memperkuat kredit usaha rakyat (KUR) agar KUR benar – benar dinikmati tanpa anggunan. “ Pemerintah jangan memberi ikan, tapi pancing.”

Sementara itu, seorang wakil ketua MPR, mengusulkan wacana pemotongan gaji terhadap penyelenggara negara. Beban APBN yang meningkat lantaran harus menanggung beban subsidi BBM hendaknya disikapi arif para penyelenggara negara. “ Untuk itu, elit di negari ini harus rela di potong gajinya 10 – 15%,” tegasnya. (KR, 2012).

 

Analisa Kasus I

 

  1. Apakah kebijakan yang akan ditempuh pemerintah sebagai antisipasi kenaikan BBM dan bagaimanakah tanggapan terhadap rencana pemerintah tersebut  ?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

  1. Apa yang diungkapkan oleh Menko Perekonomian dan tanggapan dari berbagai kalangan dalam bacaan di atas, sesungguhnya mencerminkan budaya politik. Dapatkah kalian mendeskripsikan sikap atau tindakan mereka terhadap sistem politik ?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

 

 

  1. Perhatikan dengan lebih cermat bacaan di atas, ungkapkanlah kemampuan / sikap / atau parameter apakah yang harus mereka miliki untuk bisa memberikan tanggapan terhadap rencana pemerintah tersebut ?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

  1. Berdasar jawaban nomor 3, simpulkanlah komponen yang mempengaruhi budaya politik !

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Sekarang bandingkan jawaban kalian dengan pengertian dan komponen yang mempengaruhi budaya politik di bawah ini. Apakah jawaban kalian sesuai dengan ungkapan para ahli di bawah ini.

 

  • Gabriel A. Almond dan Sidney Verba

Budaya politik adalah suatu sikap orientasi yang khas dari warga negara terhadap sistem politik dengan aneka ragam  bagiannya dan sikap  terhadap peranan warga negara yang ada dalam sistem itu.

  • Samuel Beer

Budaya politik adalah nilai-nilai keyakinan dan sikap-sikap emosi tentang bagaimana pemerintahan seharusnya dilaksanakan dan tentang apa yang harus dilakukan oleh pemerintah.

  • Larry Diamond

Budaya politik adalah keyakinan, sikap, nilai, ide-ide, sentimen, dan evaluasi suatu masyarakat tentang sistem politik negara mereka dan peran masing-masing individu dalam sistem itu.

  • Rusdi Sumintapura

Budaya politik adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik.

  • Mochtar Masud dan Colin McAndrews

Budaya politik adalah sikap dan orientasi warga suatu negara terhadap kehidupan pemerintahan negara dan politiknya.

 

Apabila ditelusuri lebih lanjut, terdapat 2 tingkatan orientasi politik yaitu pada tingkat individu dan masyarakat. Pada tingkat individu orientasi politiknya dapat dilihat dari 3 komponen yaitu orientasi kognitif, afektif, dan evaluative.

 

  1. Orientasi kognitif

Orientasi ini meliputi berbagai keyakinan dan pengetahuan seseorang tentang sistem politik. Aspek pengetahuan warganegara antara lain mengenai sistem politiknya, kebijakan pemerintah, simbol – simbol politik, dan tokoh pemerintahan.

  1. Orientasi Afektif

Orientasi ini berkaitan dengan perasaan atau ikatan emosional seseorang     pada system politik.  Seseorang mungkin memiliki sikap khusus terhadap sistem politik berbeda dengan yang lain. Hal ini bisa dipengaruhi oleh pengalamannya dalam kehidupan keluarga, lingkungan sekitar dan sebagainya. Perasaan individu terhadap sistem politik dapat berupa penolakan atau dukungan terhadap sistem politik.

  1. Orientasi Evaluatif

Orientasi ini berkaitan dengan penilaian moral seseorang terhadap sistem politik. Seseorang menggunakan parameter tertentu untuk menilai kinerja sistem politik. Dalam hal ini individu dipengaruhi oleh pengetahuan dan perasaannya terhadap sistem politik. Biasanya nilai – nilai dan norma yang dianut dan disepakati bersama akan menjadi dasar bagi sikap dan penilaian individu terhadap sistem politik.

Pada tingkat masyarakat orientasi politik berupa pandangan / sikap sesama warga negara dalam sistem politik itu, seperti sikap saling percaya yang menumbuhkan kerjasama, sikap permusuhan  antar individu, antar kelompok, antargolongan yang sering menimbulkan konflik.

Selanjutnya, bagaimanakah cara kita mengetahui orientasi politik seseorang atau masyarakat? Orientasi politik dapat dibuka secara sistematis jika kita memperhatikan :

  1. Pengetahuan apa yang dimiliki seseorang tentang negara dan sistem politiknya
  2. Bagaimana pemahaman yang dimiliki tentang arus pembuatan kebijaksanaan.
  3. Bagaimana perasaan pribadinya sebagai anggota sistem politik.
  4. Bagaimana penilaiannya terhadap kemampuan norma-norma partisipasi atau penampilan apa yang diketahui dan dipergunakannya dalam membuat penilaian politik atau dalam menyampaikan pendapatnya.

 

Menurut Almond dan Verba, orientasi politik individu atau masyarakat pada umumnya ditujukan pada obyek – obyek politik tertentu, yaitu :

  1. Peranan atau struktur khusus seperti badan legislatif, eksekutif atau birokratis.
  2. Pemegang   jabatan   seperti   pemimpin   monarki,    legislator   dan administrator,
  3. Kebijaksanaan   keputusan   atau   penguatan   keputusan,    struktur, pemegang jabatan dan struktur secara timbal balik dapat diklasifirapakah mereka termasuk dalam proses atau “input” politik atau dalamproses administratif atau “output”.

Sementara itu, Rusadi Sumintapura menyatakan orientasi politik individu atau masyarakat pada umumnya ditujukan pada obyek – obyek politik, berupa :

  1. Sistem politik secara keseluruhan
  2. Proses input berupa tuntutan dan dukungan
  3. Proses output berupa penerapan dan pemaksaan keputusan-keputusan otoritatif
  4. Diri   sendiri berupa peranan individu

 

Analisa Kasus II

 

Perhatikan kembali fakta kehidupan politik di atas !

  1. Apakah yang menjadi obyek orientasi politik pada kasus tersebut !

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

  1. Dengan menggunakan komponen sistem politik, identifikasilah obyek orientasi politik para tokoh dalam kasus kehidupan sistem politik di atas, jelaskan alasanmu !

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

 

 

Seperti apakah wujud budaya politik itu? Wujud budaya politik setidaknya dapat diklasifikikasi dalam 3 bentuk. Identifikasilah wujud budaya politik berdasar bacaan di bawah ini :

Negara Indonesia sebagai Sistem Politik

 

Indonesia adalah negara terbesar di kawasan Asia Tenggara. Negara dengan luas lebih dari 5 juta km2 dan berpenduduk lebih dari 238 juta ini disebut – sebut akan menjadi negara besar dalam perekonomian global. Pada tahun 2040 diprediksikan menjadi negara ke empat besar setelah USA, China, dan India.

Sebagai sistem politik, kehidupan sistem politik di Indonesia dibingkai nilai – nilai Pancasila. Pancasila dijabarkan dalam berbagai norma, peraturan perundangan, dan adat istiadat. Norma, peraturan, dan adat istiadat tersebut begitu kental mewarnai semua aktivitas sehari – hari masyarakat, mulai dari yang bersifat pribadi hingga aktivitas yang menyentuh langsung kehidupan sistem politik, seperti Pemilu. Baik peserta, penyelenggara maupun warganegara yang menggunakan hak pilih dalam pemilu misalnya, akan bersikap dan bertindak sesuai dengan Pancasila.

Aktivitas kehidupan pemerintahan dan rakyat terus berjalan dalam rangka mencapai cita – cita negara yaitu masyarakat Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dalam rangka ini, Indonesia dipimpin oleh seorang presiden yang dipilih langsung oleh rakyat. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan sekaligus sebagai kepala negara. Presiden menyusun dan melaksanakan program kerja pemerintah melalui pembangunan untuk mencapai tujuan nasional. Program pembangunan disusun sesuai dengan kepentingan nasional, kebutuhan dan aspirasi rakyat. Sebagai dasar hokum pelaksanaan pembangunan DPR menyusun undang – undang. DPR juga berfungsi sebagai wakil rakyat dan pengontrol kebijakan pemerintah. Sementara itu, sesuai peraturan perundangan, apabila terjadi pelanggaran undang – undang akan disidang melalu lembaga peradilan sehingga diperoleh keputusan sesuai hokum dan menghormat HAM. Untuk itu, maka dibentuklah lembaga peradilan yaitu Mahkamah Agung.

Benda – benda sebagai hasil pembangunan seperti gedung – gedung pencakar langit, jalanan yang mulus, jembatan yang kokoh, teknologi informasi dan komunikasi yang maju, rumah sakit, sekolah serta benda – benda lain yang mendukung aktivitas kehidupan warganegara Indonesia, setelah lebih dari 60 tahun Indonesia membangun semakin baik. Warganegara Indonesia juga begitu kreatif menciptakan symbol – symbol politik seperti lambang negara garuda Pancasila, bendera merah putih, lambang partai politik, dan sebagainya. Melihat apa yang telah dihasilkan oleh sistem politik Indonesia, maka tidak salah apabila para ahli memprediksikan betapa kuat dan besarnya Indonesia yang demokratis pada abad 21.

 

Analisa Kasus III

Lengkapilah tabel di bawah ini !

Wujud Budaya Politik

Bentuknya berupa

 

 

 

 

 

 

Untuk memperkuat pemahaman kita mengenai budaya politik, perlu ditegaskan mengenai apakah ciri – ciri budaya politik itu ? Ciri – ciri budaya politik dapat diidentifikasi meliputi pembahasan tentang  masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses pembuatan kebijakan, kegiatan partai politik, perilaku aparat negara, dan gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah.

 

 

  1. C.   Tipe – Tipe Budaya Politik  

 

Almond dan Sidney Verba mengidentifikasi tiga tipe budaya politik, yaitu parochial, subyek / kaula, dan partisipan. Perhatikanlah deskripsi budaya politik berikut ini, selanjutnya jawablah pertanyaan di bawahnya !

 

Budaya Politik Jawa

 

Budaya politik Jawa dipengaruhi etika “kawulo gusti” yang dibangun semenjak zaman kerajaan. Orang Jawa dikenal tabah dan ulet. Dalam hubungan satu lain mereka terhubung melalui pola bahasa “kromo inggil.” Pola hubungan inilah yang menciptakan keharmonisan dan kerukunan hidup masyarakat Jawa.

Berbagai falsafah berkembang dan dilaksanakan secara konsisten. Seperti dalam menghadapi tantangan hidup mereka menerapkan falsafah “nrimo ing pandum” (menerima dengan pasrah). Dalam meniadakan kesombongan, mereka memakai istilah “ojo dumeh” (jangan mentang – mentang). Dalam menghormati orang yang dituakan dan mengangkat jasa – jasanya untuk dicontoh dan membenamkan dalam-dalam kekeliruan para tokoh tersebut supaya tidak terulang mereka menggunakan istilah”mikul duwur mendhem jero”. Sementara itu, untuk meningkatkan kebersamaan dan kekeluargaan dikenal istilah ”mangan ora mangan waton kumpul” (makan atau tidak makan asal bersatu).

Dalam hal pekerjaan agar dilaksanakan dengan benar dan teliti dikenal istilan “alon – alon waton klakon.” Untuk merendahkan diri dan mengurangi kesewenang-wenangan, walaupun terhadap bawahan dikenal istilah “ngono yo ngono ning ojo ngono”. Ini sejalan dengan tata karma dalam menyampaikan kritik sekalipun terhadap pihak yang kalah, masyarakat Jawa menerapkan istilah ”ngluruk tanpa bolo, digdaya tanpa aji, menang tanpa ngasorake.”

Oleh karena itu, dalam politik orang Jawa relativ merendah dibanding suku – suku lain di Indonesia. Ini terlihat dari bagaimana mereka menyelipkan keris. Apabila orang Bugis, Makasar, Minangkabau, Banjarmasin, dan Aceh menyelipkan senjata di depan (perut) sehingga mudah dilihat, maka orang Jawa menyimpan kerisnya di belakang punggung agar tidak tampak mengancam. Itulah sebabnya dalam politik orang Jawa lebih suka berkelahi di belakang daripada berhadap – hadapan. (Inu Kencana S, 2004 : 61)

 

Analisa Kasus IV

 

  1. Menurut deskripsi budaya politik di atas, bagaimanakah kesadaran politik orang Jawa ?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

  1. Apakah yang menjadi landasan sikap orang Jawa dalam berpolitik ?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

  1. Bagaimanakah orang Jawa mengembangkan hubungan antara penguasa dengan rakyatnya, sebagaimana terungkap dalam deskripsi budaya politik di atas ?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

  1. Apakah orang Jawa menyampaikan kritik terhadap tokoh politik atau sesama warganegara, identifikasilah bagaimana cara mereka menyampaikan kritik, jelaskan alasanmu ?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Sekarang cermatilah materi mengenai tipe-tipe budaya politik di bawah ini !

 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada beberapa negara Almond dan Verba menyimpulkan tipe dan ciri budaya politik sebagai berikut :

 

  1. Budaya politik parochial, yang berciri :
  2. Tidak memiliki orientasi atau pandangan sama sekali (nol), baik sikap (afektif), pengetahuan ( kognitif) maupun penilaian (evaluatif) dan tidak memiliki harapan terhadap sistem politik.
  3. Masyarakat bersikap acuh tak acuh terhadap obyek politik, tetapi tetap peduli terhadap nilai-nilai primordial seperti adat istiadat, etnis dan agama.
  4. Obyek politik yang paling utama adalah pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik ,contohnya pemilihan   Kepala Desa, Pilkada, Pemilu DPR/DPD/DPRD dan Pilpres

Budaya budaya politik parochial umumnya terbatas pada suatu wilayah yang sempit, ada pada masyarakat tradisional dan sederhana dimana belum berkembang spesialisasi. Tokoh melaksanakan peran ganda, sebagai tokoh politik, ekonomi, agama dan lain – lain serta tidak ada peranan politik yang bersifat khas berdiri sendiri. Masyarakat cenderung  tidak menaruh minat terhadap objek politik yang luas kecuali daerahnya sendiri, tidak menyadari dan mengabaikan adanya pemerintahan atau politik. Mereka tinggal  di daerah terpencil dan bermata pencaharian petani, buruh yang bekerja di perkebunan dimana kontak dengan sistem politik kecil.

 

  1. Budaya politik subyek, yang berciri :
  2. Memiliki orientasi terhadap output atau pelaksanaan kebijakan publik yang sangat tinggi, tetapi orientasi terhadap input dan diri sendiri sebagai aktor politik sangat rendah.
  3. Peran politik masyarakat bersifat pasif.
  4. Masyarakat menyadari otoritas pemerintah, sehingga hanya melahirkan kepatuhan dan ketaatan tanpa disertai sikap kritis

 

  1. Budaya politik partisipan, yang berciri :
  2. Masyarakat memiki orientasi terhadap seluruh obyek politik, baik input maupun output, dan terhadap diri sendiri sebagai aktor politik.
  3. Memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa dirinya sebagai aktor politik  mampu mempengaruhi kehidupan politik bangsa dan negaranya.
  4. Aktif rasional, berperan aktif dalam proses politik tetapi juga tunduk pada hukum dan kewenangan pemerintah

 

Dalam  kenyataannya tidak satupun negara yang memiliki budaya politik murni   salah satu dari tiga tipe di atas. Menurut Muhtar Masoed dan Colin MacAndrews ada 3 model  kebudayaan politik berdasarkan proporsi ketiga tipe budaya politik sebagaimana disebutkan Almond dan Sidney Verba, yaitu model:

 

  1. Masyarakat demokratis industrial yang terdiri dari aktivis politik. Jumlah partisipan mencapai 40 s/d 60%, subyek 30% dan parochial 10%. Mereka kritis melindungi kepentingan khusus mereka.
  2. b.      Sistem politik otoriter dimana sebagian besar rakyat sebagai subyek yang pasif, tunduk pada hukumnya tapi tidak melibatkan diri dalam urusan politik dan pemerintahan. Sebagian lagi berbudaya partisipan (seperti mahasiswa, kaum intelektual, pengusaha, dan tuan tanah) dan parochial (seperti petani dan buruh yang hidup didaerah perkebunan).
  3. c.      System demokratis  pra–industrial, sebagian masyarakat berbudaua politik parochial, Hidup di desa dan buta huruf. Pengetahuan dan keterlibatan dalam politik sangat sedikit. Jumlah partisipan sangat kecil, biasanya dari kaum profesional terpelajar, pengusaha, dan tuan tanah. Demikian pula jumlah budaya politik subyek sangat kecil.

 

Dengan demikian selain 3 jenis budaya politik di atas. Ada variasi diantara ketiga tipe tersebut yaitu budaya politik:

 

  1. 1.       Subyek –  parochial
  • Budaya politik yang sebagian besar warganya telah menolak tuntutan masyarakat feodal atau kesukuan.
  • Telah mengembangkan kesetiaan terhadap sistem politik yang lebih komplek dengan stuktur pemerintah pusat yang bersifat khusus.
  • Cenderung menganut sistem pemerintahan sentralisasi.

 

  1. 2.      Subyek – partisipan
  • Sebagian besar masyarakatnya telah mempunyai orientasi input yang bersifat khusus dan serangkaian pribadi sebagai seorang aktivis.
  • Sementara sebagian kecil lainnya terus berorientasi kearah struktur pemerintahan yang otoriter dan secara relatif mempunyai serangkaian orientasi pribadi yang pasif.

 

  1. 3.      Parochial – partisipan
  • Berlaku di negara-negara berkembang yang masyarakatnya menganut budaya dalam stuktur politik parokial.
  • Tetapi untuk keselarasan  diperkenalkan norma-norma yang bersifat partisipan.

 

  1. 4.      Kewarganegaraan

Merupakan budaya politik ideal, yaitu kombinasi yang seimbang atau proporsional antara karakteristik aktif rasional (tidak emosional), memiliki informasi yang cukup mengenai politik, loyalitas, kepercayaan, dan kepatuhan terhadap pemerintah, kepercayaan sesama warga negara dan keterikatan pada keluarga, suku, dan agama (Cholisin).

 

Analisa Kasus V

Jawaban kalian pada pertanyaan nomor 1 sampai dengan 4 pada kasus budaya politik Jawa di atas pasti mempermudah pemahaman kalian mengenai tipe – tipe budaya politik. Setelah mencermati materi mengenai ciri – ciri tipe budaya politik di atas, simpulkanlah tipe budaya politik Jawa, ungkapkan dengan jelas alasanmu !

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

  1. D.   Budaya Politik di Indonesia

 

            Rusadi Sumintapura menyimpulkan Indonesia menganut budaya politik yang bersifat parokial-kaula di satu pihak dan budaya politik partisipan di pihak lain. Selain itu sikap ikatan primodalisme dan paternalisme masih mengakar kuat. Pendapat lain menyatakan bahwa di Indonesia berkembang budaya politik elit , terdiri dari kaum pelajar yang berpengaruh dan lebih berperan dalam pemerintahan, dan budaya politik massa yang kurang memahami politik sehingga mudah terbawa arus.

Clifford Geertz, seorang antropolog dari Amerika Serikat, membagi budaya politik masyarakat Indonesia menjadi tiga, yaitu budaya politik abangan ditunjukkan oleh golongan petani kecil, santri yang ditunjukkan pemeluk agama Islam yang taat, dan priyayi yaitu golongan yang terdiri dari kaum terpelajar dan golongan atas dan penduduk kota terutama para pegawai. Hampir senada Herbert Feith, seorang Indonesianis dari Australia, menyatakan bahwa selain budaya politik nasional, di Indonesia berkembang sub budaya politik yang dominan yaitu budaya politik aristocrat jawa dan wiraswastawan Islam dibanding sub budaya politik yang lain.

Affan Gaffar, menyatakan bahwa pola budaya politik Indonesia sangat didominasi kelompok etnis yang dominan, yaitu Jawa. Budaya etnis Jawa sangat mewarnai sikap, perilaku, dan orientasi politik kalangan elit politik Indonesia. Menurutnya, ada tiga ciri dominan yang terdapat dalam budaya politik Indonesia, yaitu :

 

  1. 1.       Hirarki yang ketat/tegas

 

Sebagian besar masyarakat di Indonesia, terutama masyarakat Jawa pada dasarnya bersifat hirarkis. Hal ini tampak dari adanya pemilahan tegas antara penguasa dan rakyat biasa. Penguasa dicitrakan sebagai kelompok yang pemurah, baik hati dan pelindung, sedangkan rakyat berada pada posisi harus patuh, tunduk, setia dan taat pada penguasa.

 

  1. 2.      Kecenderungan Patronage

 

Yaitu pola hubungan patron-client yang saling berinteraksi dengan mempertukarkan sumber daya yang dimiliki masing-masing. Sumber daya yang dimiliki oleh Patron biasanya berupa kekuasaan, kedudukan atau jabatan, perlindungan, perhatian dan materi; sedangkan Client memiliki sumber daya berupa tenaga, dukungan dan kesetiaan. Pola hubungan ini oleh Yahya Muhaimin disebut sebagai pola Bapakisme (bapak-anak). Bapak (patron) sebagai tumpuan dan sumber pemenuhan kebutuhan material bahkan spiritual serta emosional anak, sebaliknya para anak (client) dijadikan tulang punggung  yang setia dan penuh pengabdian.

 

  1. 3.      Kecenderungan Neo-patrimonialistik

 

Meskipun memiliki atribut yang bersifat modern dan rasional, misalnya birokrasi, tetapi perilaku negara masih memperlihatkan tradisi dan budaya politik yang berkarakter patrimonial yaitu berada dibawah kontrol langsung pimpinan negara.

 

 

 

Analisa Materi  I

 

  1. Identifikasilah tipe – tipe budaya politik di Indonesia !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Perhatikan  masyarakat di sekitar kalian, benarkah sub budaya politik sebagaimana diungkap para ahli itu ada pada masyarakat sekitarmu ! Cermatilah sikap dan perilaku mereka, deskripsikanlah ciri – ciri mereka  !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Cermatilah apakah dampak masing – masing budaya politik yang mereka tampilkan itu terhadap sistem politik (Indonesia), jelaskan pendapatmu !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. E.   Sosialisasi Budaya Politik

 

  1. 1.       Pengertian Sosialisasi Politik

Perhatikan gambar di bawah ini !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Analisa Kasus VI

 

  1. Deskripsikan peristiwa yang terjadi pada kedua gambar di atas !

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Apakah yang dapat diperoleh seorang warganegara dengan mengikuti kegiatan tersebut !

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Peristiwa di atas sesungguhnya menggambarkan bagaimana sosialisasi politik terjadi, coba kalian ungkapkan pendapatmu berdasar peristiwa dalam gambar di atas, apa sebenarnya sosialisasi politik itu ?

 

 

 

 

 

Selanjutnyan perhatikan pengertian sosialisasi politik berikut ini :

 

  • Michael Rush dan Phillip Althoff

Sosialisasi politik adalah proses bagaimana memperkenalkan sistem politik pada seseorang dan bagaimana seseorang tersebut menentukan tanggapan serta reaksi-reaksinya terhadap gejala-gejala politik.

 

  • David Easton dan Jack Dennis

Sosialisasi politik adalah suatu proses perkembangan seseorang untuk mendapatkan orientasi – orientasi politik dan pola – pola tingkah lakunya.

 

  • Jack Plano

Sosialisasi politik adalah suatu proses belajar dimana setiap individu memperoleh orientasi-orientasi berupa keyakinan, perasaan dan komponen-komponen nilai pemerintahan dan kehidupan politik. Dari sudut pandang masyarakat, sosialisasi politik adalah cara memelihara atau mengubah kebudayaan politik.

 

  • Almond dan Powell

Sosialisasi politik adalah proses dimana sikap-sikap dan nilai-nilai politik ditanamkan kepada anak-anak sampai mereka dewasa dan orang-orang dewasa tersebut direkrut ke dalam peranan-peranan politik tertentu.

 

  • Ramlan Surbakti

Sosialisasi politik adalah proses pembentukan sikap dan orientasi politik anggota masyarakat.

 

  1. 2.      Kapan dan Apakah Jalur Sosialisasi Politik ?

Proses sosialisasi politik berlangsung seumur hidup dan dilakukan dengan sengaja melalui pendidikan formal, non formal, dan informal atau tidak sengaja “kontak pengalaman sehari – hari”

 

  1. 3.      Metode Sosialisasi Politik

Dalam praktek, terdapat 2 metode sosialisasi politik yaitu :

  • Pendidikan : proses dialogik antara penerima dan pemberi pesan, dimana nilai, norma,  dan simbol politik  diperkenalkan pada masyarakat.
  • Indoktrinasi : suatu proses sepihak dimana penguasa memobilisasi dan memanipulasi warga masyarakat untuk menerima nilai, norma, dan simbol yang dianggap ideal oleh para penguasa. Sistem totaliter melakukan indoktrinasi melalui jalan paksaan psikologis, latihan penuh disiplin, dan partai politik.

 

  1. 4.      Mekanisme Sosialisasi Politik

 

Menurut Robert Le Vine, terdapat 3 mekanisme sosialisasi politik :

  • Imitasi, proses sosialisasi melalui peniruan terhadap perilaku yang ditampilkan individu-individu lain. Misalnya, sosialisasi pada masa kanak-kanak.
  • Instruksi, mengacu pada proses sosialisasi melalui proses pembelajaran formal, informal maupun nonformal.
  • Motivasi, proses sosialisasi yang berkaitan dengan pengalaman individu.

Easton dan Dennis pada sisi lain, menyatakan bahwa mekanisme sosialisasi politik melalui 4 tahap yaitu:

  • Pengenalan otoritas individu
  • Perkembangan pembedaan antara otoritas internal dan eksternal.
  • Pengenalan tentang institusi politik impersonal (ex. Parlemen, dsb)
  • Perkembangan pembedaan antara institusi – institusi politik dan mereka yang terlibat dalam aktivitas yang diassosiasikan oleh institusi itu.

 

 

Analisa Kasus VII

 

Perhatikan kembali peristiwa pada kedua gambar di atas !

 

  1. Jalur apakah yang digunakan untuk sosialisasi politik sebagaimana tercermin pada kedua gambar, jelaskan pendapatmu !

 

 

 

 

 

 

  1. Metode apakah yang digunakan dalam rangka sosialisasi politik seperti yang tercermin pada kedua gambar, jelaskan pendapatmu !

 

 

 

 

 

 

  1. Mekanisme sosialisasi politik yang mana, yang dialami para peserta pada kedua gambar, jelaskan pendapatmu !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 5.      Arti Penting Sosialisasi Politik

 

Menurut Gabriel Almond, pentingnya sosialisasi politik bagi suatu bangsa  ialah agar dapat :

  1. Membentuk dan mewariskan kebudayaan politik suatu bangsa
  2. Memelihara budaya politik suatu bangsa dengan jalan meneruskan dari generasi yang lebih tua kepada generasi berikutnya
  3. Mengubah budaya politik suatu bangsa

Sementara itu, Ramlan Surbakti mengungkapkan pentingnya sosialisasi politik ialah untuk :

  1. Membentuk dan mentransmisikan kebudayaan politik.
  2. Memelihara, mempertahankan, dan mengubah nilai, norma, dan simbol politik.
  3. Mengetahui alasan tindakan seseorang dalam bidang politik.

 

Bagi bangsa  Indonesia, sosialisasi politik diarahkan untuk memelihara dan mewariskan sistem politik yang dicita-citakan  yaitu sistem politik demokrasi Pancasila yang dilaksanakan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Nilai yang terkandung dalam sistem politik demokrasi Pancasila diantaranya adalah :

–        Religius, bukan sekuler

–        Pluralisme (Bhineka Tunggal Ika)

–        Wawasan kebangsaan (wawasan nusantara)

–        Kekeluargaan

–        Gotong royong

–        Musyawarah

–        Cinta kemerdekaan

–        Nasionalisme (cinta tanah air)

–        Cinta persatuan dan kesatuan

–        Semangat solidaritas

Sistem politik demokrasi Pancasila itu akan terwujud dengan baik jika didukung oleh partisipasi aktif dari seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, budaya politik yang berusaha dikembangkan adalah budaya politik partisipan.

 

  1. 6.      Agen Sosialisasi Politik

Terdapat beberapa sarana atau agen sosialisasi politik, meramu pendapat Mochtar Masoed dan Colin MacAndrews,  antara lain :

  • Keluarga,  merupakan lembaga pertama yang dijumpai individu saat lahir.  Dalam keluarga anak ditanamkan sikap patuh dan hormat yang mungkin dapat mempengaruhi sikap seseorang dalam sistem politik setelah dewasa.
  • Sekolah , tempat memberikan pengetahuan bagi kaum muda tentang dunia politik dan peranan mereka di dalamnya.  Sekolah memberi kesadaran pada anak tentang pentingnya kehidupan berbangsa dan bernegara, cinta tanah air.
  • Kelompok bermain, masa anak-anak dapat membentuk sikap politik seseorang, dalam kelompok bermain saling memiliki ikatan erat antar anggotanya. Seseorang dapat melakukan tindakan tertentu karena temannya melakukan hal itu.
  • Tempat kerja,  organisasi formal maupun nonformal yang dibentuk atas dasar pekerjaan seperti serikat kerja, serikat buruh.  Organisasi seperti ini dapat berfungsi sebagai penyuluh  di bidang politik.
  • Media massa, informasi peristiwa yang terjadi dimana saja dengan cepat diketahui masyarakat sehingga dapat memberi pengetahuan dan informasi tentang politik.
  • Kontak-kontak politik langsung, berupa pengalaman nyata yang dirasakan oleh seseorang dapat berpengaruh terhadap sikap dan keputusan politik seseorang.  Seperti diabaikan partainya, ditipu, rasa tidak aman.
  • Partai politik, yaitu Kelompok terorganisir yang memiliki orientasi politik yang sama. Faktor pendorong berdirinya ialah persamaan kepentingan, cita – cita, dan keyakinan. Partai politik memiliki fungsi komunikasi politik, sosialisasi politik, rekrutmen politik, pengatur konflik, oposisi dan adjudikasi.

Proses sosialisasi politik yang dialami seseorang dalam kenyataannya tidak hanya melalui satu sarana saja. Keluarga adalah sarana sosialisasi politik  pertama yang dirasakan oleh seseorang pada awal kehidupannya. Ketika anak mulai masuk usia sekolah, maka ia akan menerima sosialisasi politik melalui lembaga sekolah dan selanjutnya diikuti melalui kelompok bermain atau bergaul. Semakin dewasa umur seseorang, semakin beragam atau bertambah sarana sosialisasi politik yang diperolehnya yaitu lingkungan tempat dia bekerja, media massa ataupun kontak politik secara langsung

 

Analisa Materi II

 

  1. Mengapa sosialisasi politik harus dilakukan !

 

 

 

 

 

 

 

  1. Apakah tujuan sosialisasi politik di Indonesia !

 

 

 

 

 

 

 

  1. Isilah tabel  agen sosialisasi politik dan contoh nyata kegiatan sosialisasi politik pada berbagai agen tersebut !

 

Agen Sosialisasi Politik

Contoh Nyata dalam Kehidupan Sehari – hari

1
2
3
4
5
6
7
  1. F.    Menampikan Peran Serta Budaya Politik Partisipan     

 

Gabriel A. Almond dan Sidney Verba mengungkapkan bahwa budaya politik partisipatif atau disebut juga budaya politik demokrasi adalah  suatu kumpulan sistem keyakinan, sikap, norma, persepsi dan sejenisnya, yang menopang terwujudnya demokrasi.  Penerapan budaya politik partisipatif terwujud dalam bentuk warganegara menggunakan hak – hak politiknya dan menunaikan kewajiban politiknya dengan baik.

Partisipasi warga negara sebagai realisasi budaya politik partisipan  bisa diwujudkan dalam 4 bentuk, yaitu:

  1. Peran aktif, yaitu memberikan masukan, mengkritisi kebijakan publik
  2. Peran pasif, yaitu mematuhi kebijakan pemerintah
  3. Peran positif, yaitu meminta kepada pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka mewujudkan kesejahteraan
  4. Peran negatif, yaitu menolak segala bentuk intervensi   pemerintah berkaitan dengan hal-hal pribadi /privasi ( Cholisin ).

Hal yang harus dikembangkan dalam rangka menerapkan budaya politik partisipatif :

  1. Budaya keterbukaan.
  2. Budaya mengajukan pendapat dan berargumentasi secara santun dalam semangat egalitarianisme.
  3. Budaya pengambilan keputusan secara terbuka, demokratis, dan sportivitas politik
  4. Membiasakan rekrutmen kader secara transparan berdasar kualifikasi yang tolok ukurnya diketahui secara luas.

 

Analisa Materi III

  1. Apakah yang dimaksud budaya politik demokrasi ?

 

 

 

 

  1. Mengapa sistem politik harus mengembangkan keterbukaan, kebiasaan berargumen dengan santun, semangat egaliter, pengambilan keputusan dengan demokratis dan sportif serta rekrutmen kader secera terbuka dalam rangka melaksanakan budaya demokratis ?

 

 

 

 

 

  1. Identifikasilah bentuk realisasi budaya politik partisipan, sekaligus tunjukkan masing – masing satu contoh perilaku dalam kehidupan sehari – hari seorang warganegara !

 

 

 

 

 

 

 

Untuk memahami lebih jauh mengenai budaya politik partisipatif berikut diuraikan pengertian partisipasi politik, rambu – rambu partisipasi politik, bentuk partisipasi politik, faktor yang mempengaruhi tinggi rendah partisipasi politik, tipe partisipasi politik dan tingkatan partisipasi politik.

 

  1. 1.    Pengertian Partisipasi Politik dan Rambu – Rambunya

 

Ramlan Surbakti menyatakan bahwa partisipasi politik adalah keikutsertaan warganegara biasa dalam menentukan segala keputusan yang menyangkut atau memperngaruhi hidupnya. Rambu – rambu partisipasi politik yaitu :

  • Perilaku individu / warga negara dapat diamati.
  • Kegiatan itu diarahkan untuk mempengaruhi pemerintah selaku pembuat dan pelaksana keputusan politik.
  • Kegiatan tersebut bisa efektif (berhasil) maupun gagal mempengaruhi pemerintah.
  • Melalui prosedur konvensional (wajar) dan non konvensional.

 

  1. 2.   Bentuk partisipasi politik

Partisipasi dapat dilakukan dalam bentuk konvensional, yaitu :

  • Pemberian suara (voting)
  • Diskusi politik
  • Kampanye
  • Membentuk dan bergabung dlam kelompok kepentingan
  • Komunikasi individual dengan pejabat politik / administratif

Maupun dalam bentuk non konvensional, yaitu :

  • Petisi
  • Demontrasi
  • Konfrontasi
  • Mogok
  • Tindakan kekerasan terhadap harta benda: perusakan, pengeboman, pembakaran
  • Tindakan kekerasan politik kepada manusia: pembunuhan, penculikan, perang gerilya / revolusi

 

  1. 3.   Faktor yang Mempengaruhi Tinggi Rendah Partisipasi Politik dan Tipe Partisipasi Politik

 

Terdapat 2 (dua) faktor yang dominan mempengaruhi tinggi rendah partisipasi politik dan menentukan tipe partisipasi politik, yaitu :

  • Kesadaran politik, yaitu kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara
    • Kepercayaan pada pemerintah (sistem politik), yaitu penilaian warganegara terhadap pemerintah

Tinggi rendah kedua faktor dipengaruhi variabel : status sosial, status ekonomi, afiliasi politik orang tua dan pengalaman organisasi. Lebih jauh, Paige membagi partisipasi politik berdasar, 2 variabel di atas menjadi 4 tipe, yaitu :

  • Aktif : kesadaran politik dan kepercayaan terhadap pemerintah tinggi
  • Apatis (pasif-tertekan) : kesadaran politik dan kepercayaan pada pemerintah rendah
  • Militan radikal : kesadaran politik tinggi namun kepercayaan terhadap pemerintah rendah
  • Pasif (tidak aktif) : kesadaran politik sangat rendah namun kepercayaan terhadap pemerintah tinggi

 

  1. 4.         Tingkatan Partisipasi Politik

Huntington dan Nelson menyatakan bahwa kriteria untuk menentukan tingkatan partisipasi politik adalah :

  • Ruang lingkup / proporsi dari suatu kategori warga negara yang melibatkan diri dalam partisipasi politik
  • Intensitas, atau ukuran lamanya dan arti penting dari kegiatan khusus pada sistem politik

Hubungan keduanya berbanding terbalik : semakin besar ruang lingkup (ex. Pemilu), maka semakin kecil atau rendah intensitasnya dan semakin kecil ruang lingkupnya  (ex : kegiatan aktivis partai) maka semakin besar atau tinggi intensitasnya.

Menurut mereka tingkatan partisipasi politik dari yang terendah adalah sebagai berikut:

  1. Voting (pemberian suara)
  2. Partisipasi dalam diskusi politik informal, minat dalam bidang politik
  3. Partisipasi dalam rapat umum, demonstrasi dan sebagainya
  4. Anggota pasif organisasi semu politik
  5. Anggota aktif organisasi semu politik
  6. Anggota aktif organisasi semu politik
  7. Anggota aktif organisasi politik
  8. Mencari jabatan politik / adminsitratif
  9. Menduduki jabatan politik / adminstratif

 

Sementara itu, David F. Roth dan Frank L. Wilson menyatakan tingkatan partisipasi politik sebagai berikut:

 

 

 

  • Aktivis : pejabat partai penuh waktu,pemimpin parpol
  • Partisipan : petugas kampanye,anggota aktif parpol/kelompok kepentingan
  • Pengamat : menghadiri rapat umum, membicarakan masalah politik,memberi suara dalam pemilu
  • Apolitis : orang-orang yang tidak mau terlibat dalam politik

 

 

Analisa Materi IV

 

  1. Jelaskan yang dimaksud partisipasi politik, sekaligus tunjukkan rambu – rambunya !

 

 

 

 

 

  1. Identifikasilah 2 jenis bentuk partisipasi politik beserta contohnya !

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Faktor apakah yang mempengaruhi tinggi rendah partisipasi politik ?

 

 

 

 

  1. Jelaskan tipe partisipasi politik, sekaligus tunjukkan masing – masing satu contoh perilaku warganegara yang mencerminkan tipe partisipasi tersebut !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Identifikasilah tingkatan partisipasi politik menurut Roth dan Wilson !

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar ditutup.

Arsip

Pengunjung

  • 34,170 hits

Top Rated

Kalender

September 2016
S S R K J S M
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 7 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: